Mari kita belajar cara untuk memecahkan masalah,
serta mencapai tujuan ...
... dari sebuah rubik.
Dibuat pertama kali oleh arsitek Hungaria, Erno Rubik (dari sinilah kita tahu nama Rubik berasal), Rubik’s cube dimaksudkan sebagai sebuah model untuk menjelaskan geometry 3 dimensi.
Benda warna-warni berbentuk kubus yang sangat populer selama 4 dasawarsa terakhir hingga sempat dijadikan Google Doodle pada tahun 2014 silam, sejatinya bukanlah mainan anak-anak seperti yang kita kenal sekarang.
Namun mempersoalkannya sebagai mainan atau bukan tidaklah begitu penting. Sebab ada yang jauh lebih penting dari itu, yakni sesuatu yang dapat kita pelajari ...
... di balik sebuah rubik.

Rubik never meant to be a toy
Jika Anda belum pernah bermain rubik sebelumnya, 1000% saya yakin Anda tidak akan bisa menyelesaikan susunan warna-warni kubus yang diacak menjadi rapi kembali seperti sedia kala.
Semakin diputar, semakin dikerjakan, semakin dipikirkan, maka semakin kacau pula susunan warnanya.
Dan itu merupakan hal yang sangat normal.
Karena dalam sebuah rubik 3x3, kombinasi arah yang dapat terjadi adalah sebesar 43 x 10 pangkat 18 atau sekitar 43,000,000,000,000,000,000 kemungkinan berbeda.
Nampak begitu sukar, bukan? ^_^
Padahal jika Rubik tersebut diberikan kepada seseorang yang sudah mengetahui cara untuk memecahkannya, maka dalam waktu kurang dari 5 menit Rubik tersebut dijamin akan berhasil diselesaikan.
Faktanya, rekor dunia untuk menyelesaikan Rubik 3x3 yang dipegang oleh Feliks Zemdegs (21 tahun) adalah selama 4,7 detik. Bahkan sebuah robot dengan “otak buatan” bernama Sub1 mampu menyelesaikan rubik dalam waktu 0,637 detik sahaja.

sub1
Pertanyaannya, mengapa hal yang demikian kontradiktif dapat terjadi?
Rahasianya ada 2.
Dan keduanya menyimpan pesan yang berharga untuk kita, Anda dan saya.
Rahasia 1: Algoritma
Kira-kira setahun lalu, ketika pertama kalinya saya bermain rubik secara serius dengan maksud untuk menyelesaikannya (sebelumnya pernah main, tetapi hanya iseng tanpa pernah selesai), saya berpikir jika benda tersebut akan menuntut logika berpikir dan perhitungan matematika yang saya miliki.
Saya merasa sangat tertantang untuk menyelesaikannya dengan cara saya sendiri menggunakan seluruh kemampuan otak saya.
Dan seperti yang bisa diterka, saya mabok berat pada hari ketiga ^_^
Tapi itu tak lantas membuat saya menyerah, karena jika orang lain mampu menyelesaikannya, kenapa pula saya tidak bisa?
Maka saya pun melakukan penelusuran dan menyadari betapa kelirunya saya melewatkan hal yang sebetulnya sudah tersedia untuk menyelesaikan rubik tersebut: algoritma.
Algoritma adalah logika, metode, dan tahapan (urutan) sistematis yang digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan.
Dalam kasus rubik, rumus algoritma untuk menyelesaikannya ternyata telah ditemukan cukup lama dalam berbagai versi dimana secara umum hanya diperlukan 7 langkah untuk menyelesaikan rubik yang acak-acakan.
Pelajarannya:
- Ada ilmu yang dapat kita pelajari sendiri, ada pula ilmu yang dapat kita pelajari dari orang lain. Untuk yang terakhir, selama itu terbukti, kadang-kadang kita hanya harus mengikutinya saja tanpa perlu mengerti logika yang terlalu kompleks di baliknya.
- Jika 43,000,000,000,000,000,000 kemungkinan ternyata dapat diatasi dengan 7 langkah algoritma, maka kemungkinan gagal kita yang hanya 2, 3, 4 atau bahkan 10 kali tidaklah ada apa-apanya. Ini juga berarti hampir semua persoalan dapat dipecahkan selama kita tahu caranya atau selama kita tahu cara untuk mencari caranya.

algorithm
Rahasia 2: Tekun
Dan beginilah rumus algoritma yang dapat Anda gunakan untuk menyelesaikan rubik:

7-steps
Jika Anda membutuhkan panadol untuk dapat memahami rumus diatas, maka (sekali lagi) Anda termasuk orang yang normal.
Saya sendiri perlu waktu berhari-hari untuk mencari tahu bagaimana cara untuk menerapkan algoritma tersebut dan tambahan beberapa hari lagi untuk dapat menyelesaikan rubik tanpa harus mencontek rumusnya.
Tetapi beginilah yang lebih sering terjadi:
Kita kerap berhenti ketika mendapatkan sebuah “peta harta karun” karena merasa itu terlalu sulit untuk dilakukan. Padahal sebetulnya kita hanya berjarak 2 langkah saja untuk dapat menggapainya.
Dua langkah tersebut adalah ketekunan.
Pertama, tekun untuk mencari tahu cara untuk melakukannya dan kedua, tekun untuk terus melakukannya.

curious vs determined
Pelajarannya:
- Ada 3 macam manusia: (1) mereka yang hanya menginginkannya (2) mereka yang berkata ini tidak dapat diselesaikan dan (3) mereka yang mengerjakannya.
- Mengetahui saja tidak cukup, kita harus melakukannya.
Dan melakukannya dengan lebih tekun tentu saja akan semakin cepat mendekatkan kita pada tujuan.
Sebab pepatah mengatakan: “Ketekunan dapat membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin, kemungkinan kecil menjadi kemungkinan besar, dan membuat kemungkinan besar menjadi pasti.”
Semoga bermanfaat,
RA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar